
: “, ”
.
(Oleh: Apriadi Putra)
Sabtu, 27 Oktober 1928 merupakan hari bersejarah yang menjadi salah satu momen lahirnya politik kebangsaan. Hari itu, perwakilan pemuda-pemuda dari semenanjung negeri bersinergi membangun sebuah kata, sebuah ittikad dan sebuah ikrar, yakni “ ”. Hari itu, kini kita kenang sebagai .
Perjalanan menuju sebuah persatuan bukanlah sesuatu yang mudah, ada serakan kerikil yang siap meretas telapak, ada gunung-gunung tinggi yang harus didaki, ada lautan luas yang harus diseberangi. Semua tentu sangat melelahkan. Bukan hanya melelahkan, tapi darah dan nyawa menjadi taruhan.
Jika menilik ke belakang, betapa mengerikannya perjuangan leluhur kita dalam memperjuangkan persatuan dan keutuhan sebuah bangsa yang menjadi identitas kita saat ini.
Lalu, yang menjadi pertanyaannya adalah, untuk apa mereka melakukan itu semua?.
Maka tidak ada jawaban lain, selain sebagai pengabdian dan demi kita, – . Inilah “ruh” perjuangan mereka.
Atas dasar ruh perjuangan ini, bangsa kita tetap gigih berjuang menumpas penjajah selama 350 tahun. Dalam kurun waktu tersebut bangsa kita melawan, bukan dijajah. Para leluhur kita tidaklah manut dan tunduk terhadap segala bentuk imprealisme para kolonial. Akan tetapi, mereka berjuang membebaskan tanah air ini dari cengkraman keserakahan negeri asing.
Dalam sebuah dialog, unggahan akun youtube milik Arie Untung*¹⁾ , Salim A Fillah menyatakan Bangsa kita bisa eksis sampai saat ini merupakan bukti bahwa leluhur kita tidak diam dan manut saja terhadap penjajah.
Jika dibandingkan apa yang terjadi di nusantara, dengan apa yang terjadi di Benua Amerika dan Australia pada masa kolonialisme. Nusantara kita dan Benua Amerika maupun Australia sama-sama didatangi oleh penjelajah sekaligus penjajah dari Eropa.
Sebelum kedatangan Christopher Columbus pada 1492, disusul Francisco Pizzaro, Hernando Cortez, dan Amerigo Vespucci ke benua Amerika, jumlah penduduk asli Amerika diperkirakan antara 50 juta sampai dengan 110 juta orang. Namun setelah kedatangan para penjajah ini, akibat peperangan dan penyakit yang dibawa oleh mereka, jumlah penduduk asli Amerika musnah hampir tak bersisa. Bahkan sampai saat ini, menurut Wikipedia jumlah penduduk Asli Amerika yang terdiri dari suku Indian dan Suku Eskimo baru mencapai 5 juta orang *²⁾.
Kemudian pada Benua Australia. Sebelum kedatangan Kapten James Cook pada 1770 M, Jumlah penduduk asli Benua Australia (suku Aborigin) saat itu diperkirakan antara 8 juta hingga 20 Juta orang, namun saat ini merka tersisa sekitar 45 ribu orang. Itupun mereka dikonservasi. Begitulah gambaran nasib Bangsa Amerika dan Australia Ketika sedang terjajah. Mereka tidak memiliki imunitas terhadap intimidasi dan cengkraman penjajah.
Berbeda halnya dengan di nusantara. Sebelum datang para penjajah dari Bangsa Eropa, nusantara berupa kesultanan-kesultanan yang mengatur dan menjalankan pemerintahan secara sendiri-sendiri. Belum ada istilah Indonesia kala itu.
Begitu Malaka ditaklukan oleh penjajah Portugis pada 1511 M di bawah komando Alfonso de Albuquerque (Laksamana Portugis), Kesultanan-Kesultanan di Nusantara langsung bereaksi. Misalnya Demak dibawah pimpinan Pati Unus, langsung membentuk sebuah armada bahkan bersekutu dengan Cirebon, Banten, Palembang, Jambi, dan Aceh untuk menggempur Malaka yang saat itu telah dikuasai Portugis.
Sejak 1511 M sampai dengan menjelang kemerdekaan, perlawanan rakyat di nusantara terhadap penjajah tidak pernah padam. Hanya berganti-ganti lokasi dan kepemimpinan. Bahkan Aceh baru berhasil dikuasai belanda pada 1910 M. Dan yang lebih hebatnya lagi, setelah berhasil menumpas penjajah, rakyat di nusantara bersatu menjadi bangsa yang besar. tidak seperti di Amerika dan Australia dimana penduduk aslinya semakin mengerdil bahkan punah.
Sehingga narasi Indonesia dijajah selama 350 tahun kiranya perlu kita ganti dengan “ ”.
Bukan karena apa-apa, narasi dijajah pada literasi-literasi sejarah yang diajarkan pada bangku sekolah, sadar atau tidak sadar telah menanamkan stigma negatif dan memengaruhi psikis generasi bangsa.
Sebagai contoh, hampir seluruh film sinetron Indonesia, selalu saja pemeran utama sebagai korban yang dibuli dan rendahkan. Berbeda dengan film-film Hollywood, pemeran utama justru menjadi pahlawan dan pemberani.
Narasi “ ” adalah sebuah narasi yang saya rasa dapat menanamkan jiwa kesatria dan rasa persatuan bagi generasi bangsa. Sehingga kelak Indonesia hadir sebagai bangsa yang kuat dan mengayomi, serta kiprahnya sangat diperhitungkan oleh dunia.
Referensi:
*1) Akun Youtube Cerita Untung, https://www.youtube.com/watch?v=mtz_t9W3HeY
*2) Wikipedia
